Laporan
Hasil Wawancara
WAWANCARA
TENTANG
EMOSI
Dosen Pengampu:
Nama Dosen
Logo
Laporan
Hasil Wawancara ini Diajukan Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Psikologi
Oleh:
Ratih Maloppo
JURUSAN ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH
IAIN SULTAN AMAI GORONTALO
2020
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT,
berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan
baik dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
Adapun pembahasan yang
dibahas dalam wawancara ini adalah “Emosi”. Wawancara ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas UAS mata kuliah Psikologi.
Penulisan makalah ini telah diselesaikan dengan semaksimal mungkin. Namun,
sekiranya masih terdapat kesalahan dan kekurangan, kami sangat mengharapkan kritik dan
saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Gorontalo, Januari 2020
Penulis
PEMBAHASAN
A.
Penjelasan Teori
1 1. Pengertian Emosi
Emosi sering di istilahkan juga
sebagai perasaan. Atas hal ini dikatakan bahwa emosi biasanya disifatkan
sebagai suatu keadaan (state) dari diri seseorang pada suatu waktu. Misalnya
saja, sesorang merasa senang, sedih, teraharu, dan sebagainya bila melihat
seuatu, mendengar sesuatu, dan bahkan mencium sesuatu. Singkat kata, emosi
disifatkan sebagai suatu keadaan mental sebagai akibat adanya
peristiwa-peristiwa yang pada umumnya datang dari luar; dan peristiwa-peristiwa
tersebut pada umumnya menimbulkan kegoncangan-kegoncangan pada diri orang
tersebut.
Menurut Daniel Goleman, seorang pakar kecerdasan emosional, ia
mendefinisikan emosi dalam Oxford English Dictionary yang memaknai emosi
sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap
keadaan mental yang hebat dan meluap-meluap.lalu ia menyimpulkan bahwa emosi
merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khas, suatu keadaan biologis
dan psikologis serta rangkaian kecenderungan untuk bertindak.
Dalam definisi lain, menyatakan bahwa emosi adalah suatu respon terhadap suatu dari perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis
disertai perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus.
2.
Bentuk-bentuk Emosi
Menurut Daniel Goleman mengidentifikasi
sejumlah kelompok emosi, yaitu sebagi berikut:
1. Amarah, didalamnya meliputi brutal, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal
hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan,
dan kebencian patalogis.
2. Kesedihan, didalamnya meliputi pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani
diri, kesepian, ditolak, putus asa, depresi.
3. Rasa takut, di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, waswas, perasaan takut
sekali, sedih, waspada, tidak tenang hati, ngeri, kecut,panik, dan fobia.
4. Kenimatan, di dalamnya meliputi bahagia, gembira, ringan puas, riang, senang,
terhibur, bangga, kenikmatan inderawi, takjub, terpesona, puas, rasa terpenuhi,
girang, senang sekali, dan maniah.
5. Cinta, di dalamnya meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati,
rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, dan kasih sayang.
6. Terkejut, di dalamnya meliputi terkesiap, takjub, dan terpanah.
7. Jengkel, di dalamnya meliputi hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, dan mau
muntah.
8. Malu, di dalamnya meliputi rasa abersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina,
aib, dan hati hancur lebur.
3.
Kondisi Fisiologis Ketika Emosi
Jika kita mengalami suatu emosi kuat, serasa takut atau marah, kita
tentunya merasakan sejumlah peubahan pada tubuh. Sebagian besar perubahan
fisiologis selama rangsangan emosional terjadi akibat aktivitas cabang simpatik
dari sistem saraf otonomik untuk mempersiapkan tubuh melakukan tindakan
darurat. Dalam hal ini, sistem simpatik bertanggungjawab untuk terjadinya
perubahan-perubahan berikut:
1.
Tekanan
darah dan kecepatan jantung meningkat
2.
Pernafasan
terjadi lebih cepat
3.
Pupil
mata mengalami dilatasi
4.
Keringat
meningakat sementara sekresi salifa dan mukus menurun
5.
Kadar
gula darah meningkat untuk memberikan lebih banyak energi
6.
Darah
membeku lebih cepat untuk persiapan kalau terjadi luka
7.
Motilitas
saluran gastrointestinal menurun, darah dialihkan dari lambung dan usus ke otak
dan otot rangka rambut di kulit menjadi tegang menyebabkan menjadi merinding.
4.
Komponen Emosi
Emosi yang kuat mencakup beberapa komponen umum yaitu reaksi tubuh,
kumpulan pikiran dan keyakinan yang menyertai emosi, ekspresi wajah, dan reaksi
terhadap sebuah pengalaman.
1.
Reaksi
tubuh. Jika marah misalnya, maka tubuh kita kadang-kadang gemetar atau suara
kita meninggi, walaupun kita tidak mnginginkannya
2.
Kumpulan
pikiran dan keyakinan yang menyertai emosi biasanya terjadi secara otomatis.
3.
Reaksi
terhadap sebuah pengalaman. Ini mencakup reaksi spesifik dan reaksi yang lebih
global. Misalnya, kemarahan mungkin menyebabkan agresi (spesifik), dan mungkin
menggelapkan pandangan kita terhadap realita sosial (global).
B.
Hasil Wawancara
1.
Waktu
dan Tempat
Hari/Tanggal : Kamis, 09 Januari 2020
Waktu : Pukul 08.00 Wita s/d
Tempat : Kost Ahmad Masyfuq, Limboto, Kab. Gorontalo
2.
Narasumber :
Sartika N. Dakula
Pewawancara : Ratih Maloppo
Pertanyaan :
Menurut Anda emosi itu apa dan emosi itu bagaimana?
Jawaban : Jadi menurut saya dan menurut
yang pernah saya baca, emosi itu tidak hanya berkaitan dengan amarah saja, tapi
emosi itu dapat juga berkaitan dengan perasaan seseorang, seperti seseorang itu
mengekspresikannya secara berlebihan. Emosi juga bisa berarti perasaan sedih,
amarah, nah itu juga termasuk dalam emosi atau bagian dari emosi itu sendiri.
Jika diperhatikan di zaman sekarang, kebanyakan orang itu mengartikan bahwa emosi
itu adalah sebuah amarah seseorang. Akan tetapi, sebenarnya emosi itu bukan
hanya tentang marah.
Pertanyaan : Bagaimana menurut Anda dengan gembira,
terkejut dan ceria, apakah itu termasuk dalam emosi atau tidak?
Jawaban : Menurut saya iya, itu termasuk
dalam emosi, dan itu kan tergantung perasaan dari seserorang, tetapi menurut
saya itu yang diekspresikan secara berlebihan. Jadi intinya disini, emosi itu
berkaitan dengan perasaan, entah itu dari perasaan sedih, marah, bahagia, atau
cinta, nah itu semua emosinya yang berperan dalam hal itu.
Pertanyaan :
Apa sebab dari emosi itu sendiri jika menurut Anda?
Jawaban : Yaitu adanya aksi yang
melibatkan perasaan. Tapi, itu Tergantung juga dari emosinya itu emosi apa.
Kalau misalnya emosinya tentang amarah, berarti ada suatu masalah atau konflik
yang menyebabkan emosi amarah itu muncul, dan yang diekspresikannya secara
berlebihan.
Pertanyaan : Apa dampak yang terjadi dari emosi
itu sendiri jika menurut Anda?
Jawaban : Jika seseorang itu
mengekspresikan amarahnya secara berlebihan, maka dampaknya itu akan terjadi
pada lingkungannya sendiri. Orang akan mudah menilai seseorang itu, yaitu
menilai bahwa seseorang ini mempunyai sifat pemarah atau yang buruk. Karena,
orang yang sedang emosi apalagi dalam keadaan marah, itu sangat sulit untuk
dapat mengontrol diri sendiri dari emosi tersebut. Jadi, dampak yang muncul itu
kebanyakan adalah dampak negatif. Kecuali misalnya dalam momen-momen tertentu,
nah itu bisa menjadi dampak yang positif. Contohnya seperti emosi seorang
pemimpin. Emosi seorang pemimpin yang ketika melihat para anggotanya bekerja
dengan tidak optimal atau tidak sesuai dengan tupoksinya atau sebagainya, itu
merupakan emosi atau amarah dari pemimpin itu sendiri, yang bisa mendorong
untuk supaya para anggotanya bisa lebih semangat dan lebih giat dalam bekerja
sesuai dengan tugasnya masing-masing, dan lebih optimal lagi dalam bekerja.
Pertanyaan : Jika emosi itu terjadi pada diri
Anda sendiri, apa yang akan Anda lakukan? Misalnya entah itu emosi dari segi
amarah atau gembira, nah maka apa yang akan Anda lakukan jika emosi itu
terjadi?
Jawaban : Berhubung saya adalah orang
yang sangat ekspresif, karena saya itu salah satu tipe orang yang kalau soal
perasaan, itu selalu suka mengekspresikannya secara berlebihan, baik itu sedih,
marah, ataupun bahagia, sebenarnya jika posisi kita sebagai orang yang kalem
dan pendiam, maka kita harus tetap terlihat anggun jika dilihat orang atau di
khalayat umum. Tapi itu sangat berbeda dengan saya. Saya itu suka
mengekspresikan emosi saya berlebihan. Nah, jika emosi amarah itu terjadi pada
saya, misalnya yang posisi saya sekarang sebagai seorang ketua tingkat, dan
saya sudah melaksanakan tugas saya sebagai seorang ketua tingkat itu dengan
sebaik mungkin, seperti saya sudah menyampaikan apa pesan dari dosen atau ada
kegiatan-kegiatan lain kepada teman-teman saya, dan kemudian ada teman-teman saya
ternyata tetap masih ada yang komentar ini dan itu atau terjadi kesalahpahaman,
dan sampai menyalahkan saya, padahal saya sudah menyampaikan itu dengan
sedemikian rupa. Nah, itu saya bisa sampai mengekspresikan amarah saya dengan
secara terang-terangan atau kalau dalam bahasa kita sehari-hari yaitu
blak-blakan. Kemudian, setelah kejadian itu, barulah saya merasa bahwa saya
sangat menyesali apa yang telah terjadi. Misalnya saya menyesal karena tadi
saya sudah marah-marah pada teman-teman saya. Padahal itu semua yang bisa kita
bicarakan dengan baik-baik tanpa marah-marah. Tapi memang jika dilihat dari
lingkungan kita, kebanyakan orang itu sulit jika dalam mengontrol amarah, atau
amarah itu sulit untuk dikendalikan. Sama halnya juga dengan sedih, bahagia.
Akan tetapi, kalau sedih itu masih bisa untuk dikontrol, atau masih bisa
dikendalikan.
C.
Keterkaitan antara Teori dengan Hasil Wawancara
Pada dasarnya, emosi itu memag sudah
ada dalam diri masing-masing orang. Baik itu dari emosi amarah, sedih, senang,
terkejut, takut, malu dan sebagainya. Jika dilihat dari hasil wawancara yang
saya lakukan, saya dapat mengetahui bahwa emosi itu berkaitan dengan persepsi
atau cara pandang seseorang terhadap sesuatu, karena setiap orang juga punya
cara tersendiri untuk mengekspresikan emosinya tersebut serta cara untuk
mengendalikannya pun berbeda, yaitu tergantung dari persepsi orang tersebut.
Dalam hal ini, emosi juga berkaitan
dengan memori atau ingatan seseorang, karena ingatan masa lalu juga dapat
mempengaruhi keadaan jiwa seseorang. Memendam emosi negatif seperti marah itu
juga tidak selamanya baik, karena amarah yang di pendam terus-menerus,
sewaktu-waktu akan meluap kapan saja, ada baiknya ketika kita ada masalah kita
mencari tempat untuk bisa sharing dan minta solusi kepada teman yang kita
percaya contohnya, dan cara lainnya kita juga bisa melakukan hal-hal positif
yang bermanfaat untuk kita dan orang lain, ketika seseorang paham akan keadaan
dirinya sendiri, ia akan lebih mudah mengendalikan emosinya.
Keterkaitan hasil wawancara ini
dengan teori yang diambil, dapat disimpulkan bahwa dimana seseorang itu dapat
mengekspresikan emosinya itu sesuai dengan perasaannya. Bahkan dari sebab
akibat itu sendiri dapat dirasakannya. Seseorang akan sadar saat semua kejadian
itu telah terjadi, dan akan menyesali dengan apa yang telah terjadi, jika itu
dalam emosi amarah. Jika itu terjadi dalam emosi lainnya, maka semua itu akan
tergantung pada diri seseorang itu, entah itu dari cara ia mengontrol atau
mengendalikan dirinya.
D.
Dokumentasi
Foto