Minggu, 26 Januari 2020

Laporan Hasil Wawancara


Laporan Hasil Wawancara
WAWANCARA TENTANG
EMOSI

Dosen Pengampu:
Nama Dosen


Logo


Laporan Hasil Wawancara ini Diajukan Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Psikologi

Oleh:
Ratih Maloppo

JURUSAN ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH
IAIN SULTAN AMAI GORONTALO
2020




KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
Adapun pembahasan yang dibahas dalam wawancara ini adalah Emosi”. Wawancara ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas UAS mata kuliah Psikologi.
Penulisan makalah ini telah diselesaikan dengan semaksimal mungkin. Namun, sekiranya masih terdapat kesalahan dan kekurangan, kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.



Gorontalo,     Januari 2020


Penulis






PEMBAHASAN
A.    Penjelasan Teori
1           1. Pengertian Emosi
Emosi sering di istilahkan juga sebagai perasaan. Atas hal ini dikatakan bahwa emosi biasanya disifatkan sebagai suatu keadaan (state) dari diri seseorang pada suatu waktu. Misalnya saja, sesorang merasa senang, sedih, teraharu, dan sebagainya bila melihat seuatu, mendengar sesuatu, dan bahkan mencium sesuatu. Singkat kata, emosi disifatkan sebagai suatu keadaan mental sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang pada umumnya datang dari luar; dan peristiwa-peristiwa tersebut pada umumnya menimbulkan kegoncangan-kegoncangan pada diri orang tersebut.
Menurut Daniel Goleman, seorang pakar kecerdasan emosional, ia mendefinisikan emosi dalam Oxford English Dictionary yang memaknai emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-meluap.lalu ia menyimpulkan bahwa emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khas, suatu keadaan biologis dan psikologis serta rangkaian kecenderungan untuk bertindak.
Dalam definisi lain, menyatakan bahwa emosi adalah suatu respon terhadap suatu dari perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus.

2.      Bentuk-bentuk Emosi
Menurut Daniel Goleman mengidentifikasi sejumlah kelompok emosi, yaitu sebagi berikut:
1.      Amarah, didalamnya meliputi brutal, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan, dan kebencian patalogis.
2.      Kesedihan, didalamnya meliputi pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, depresi.
3.      Rasa takut, di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, waswas, perasaan takut sekali, sedih, waspada, tidak tenang hati, ngeri, kecut,panik, dan fobia.
4.      Kenimatan, di dalamnya meliputi bahagia, gembira, ringan puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan inderawi, takjub, terpesona, puas, rasa terpenuhi, girang, senang sekali, dan maniah.
5.      Cinta, di dalamnya meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, dan kasih sayang.
6.      Terkejut, di dalamnya meliputi terkesiap, takjub, dan terpanah.
7.      Jengkel, di dalamnya meliputi hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, dan mau muntah.
8.      Malu, di dalamnya meliputi rasa abersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.

3.      Kondisi Fisiologis Ketika Emosi
Jika kita mengalami suatu emosi kuat, serasa takut atau marah, kita tentunya merasakan sejumlah peubahan pada tubuh. Sebagian besar perubahan fisiologis selama rangsangan emosional terjadi akibat aktivitas cabang simpatik dari sistem saraf otonomik untuk mempersiapkan tubuh melakukan tindakan darurat. Dalam hal ini, sistem simpatik bertanggungjawab untuk terjadinya perubahan-perubahan berikut:
1.      Tekanan darah dan kecepatan jantung meningkat
2.      Pernafasan terjadi lebih cepat
3.      Pupil mata mengalami dilatasi
4.      Keringat meningakat sementara sekresi salifa dan mukus menurun
5.      Kadar gula darah meningkat untuk memberikan lebih banyak energi
6.      Darah membeku lebih cepat untuk persiapan kalau terjadi luka
7.      Motilitas saluran gastrointestinal menurun, darah dialihkan dari lambung dan usus ke otak dan otot rangka rambut di kulit menjadi tegang menyebabkan menjadi merinding.

4.      Komponen Emosi
Emosi yang kuat mencakup beberapa komponen umum yaitu reaksi tubuh, kumpulan pikiran dan keyakinan yang menyertai emosi, ekspresi wajah, dan reaksi terhadap sebuah pengalaman.
1.      Reaksi tubuh. Jika marah misalnya, maka tubuh kita kadang-kadang gemetar atau suara kita meninggi, walaupun kita tidak mnginginkannya
2.      Kumpulan pikiran dan keyakinan yang menyertai emosi biasanya terjadi secara otomatis.
3.      Reaksi terhadap sebuah pengalaman. Ini mencakup reaksi spesifik dan reaksi yang lebih global. Misalnya, kemarahan mungkin menyebabkan agresi (spesifik), dan mungkin menggelapkan pandangan kita terhadap realita sosial (global).

B.     Hasil Wawancara
1.      Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal   :  Kamis, 09 Januari 2020
Waktu             :  Pukul 08.00 Wita s/d
Tempat            :  Kost Ahmad Masyfuq, Limboto, Kab. Gorontalo

2.      Narasumber     :  Sartika N. Dakula
Pewawancara  :  Ratih Maloppo

Pertanyaan                        :  Menurut Anda emosi itu apa dan emosi itu bagaimana?
Jawaban                : Jadi menurut saya dan menurut yang pernah saya baca, emosi itu tidak hanya berkaitan dengan amarah saja, tapi emosi itu dapat juga berkaitan dengan perasaan seseorang, seperti seseorang itu mengekspresikannya secara berlebihan. Emosi juga bisa berarti perasaan sedih, amarah, nah itu juga termasuk dalam emosi atau bagian dari emosi itu sendiri. Jika diperhatikan di zaman sekarang, kebanyakan orang itu mengartikan bahwa emosi itu adalah sebuah amarah seseorang. Akan tetapi, sebenarnya emosi itu bukan hanya tentang marah.

Pertanyaan            : Bagaimana menurut Anda dengan gembira, terkejut dan ceria, apakah itu termasuk dalam emosi atau tidak?
Jawaban                : Menurut saya iya, itu termasuk dalam emosi, dan itu kan tergantung perasaan dari seserorang, tetapi menurut saya itu yang diekspresikan secara berlebihan. Jadi intinya disini, emosi itu berkaitan dengan perasaan, entah itu dari perasaan sedih, marah, bahagia, atau cinta, nah itu semua emosinya yang berperan dalam hal itu.

Pertanyaan            :  Apa sebab dari emosi itu sendiri jika menurut Anda?
Jawaban                : Yaitu adanya aksi yang melibatkan perasaan. Tapi, itu Tergantung juga dari emosinya itu emosi apa. Kalau misalnya emosinya tentang amarah, berarti ada suatu masalah atau konflik yang menyebabkan emosi amarah itu muncul, dan yang diekspresikannya secara berlebihan.

Pertanyaan            : Apa dampak yang terjadi dari emosi itu sendiri jika menurut Anda?
Jawaban                : Jika seseorang itu mengekspresikan amarahnya secara berlebihan, maka dampaknya itu akan terjadi pada lingkungannya sendiri. Orang akan mudah menilai seseorang itu, yaitu menilai bahwa seseorang ini mempunyai sifat pemarah atau yang buruk. Karena, orang yang sedang emosi apalagi dalam keadaan marah, itu sangat sulit untuk dapat mengontrol diri sendiri dari emosi tersebut. Jadi, dampak yang muncul itu kebanyakan adalah dampak negatif. Kecuali misalnya dalam momen-momen tertentu, nah itu bisa menjadi dampak yang positif. Contohnya seperti emosi seorang pemimpin. Emosi seorang pemimpin yang ketika melihat para anggotanya bekerja dengan tidak optimal atau tidak sesuai dengan tupoksinya atau sebagainya, itu merupakan emosi atau amarah dari pemimpin itu sendiri, yang bisa mendorong untuk supaya para anggotanya bisa lebih semangat dan lebih giat dalam bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing, dan lebih optimal lagi dalam bekerja.

Pertanyaan            : Jika emosi itu terjadi pada diri Anda sendiri, apa yang akan Anda lakukan? Misalnya entah itu emosi dari segi amarah atau gembira, nah maka apa yang akan Anda lakukan jika emosi itu terjadi?
Jawaban                : Berhubung saya adalah orang yang sangat ekspresif, karena saya itu salah satu tipe orang yang kalau soal perasaan, itu selalu suka mengekspresikannya secara berlebihan, baik itu sedih, marah, ataupun bahagia, sebenarnya jika posisi kita sebagai orang yang kalem dan pendiam, maka kita harus tetap terlihat anggun jika dilihat orang atau di khalayat umum. Tapi itu sangat berbeda dengan saya. Saya itu suka mengekspresikan emosi saya berlebihan. Nah, jika emosi amarah itu terjadi pada saya, misalnya yang posisi saya sekarang sebagai seorang ketua tingkat, dan saya sudah melaksanakan tugas saya sebagai seorang ketua tingkat itu dengan sebaik mungkin, seperti saya sudah menyampaikan apa pesan dari dosen atau ada kegiatan-kegiatan lain kepada teman-teman saya, dan kemudian ada teman-teman saya ternyata tetap masih ada yang komentar ini dan itu atau terjadi kesalahpahaman, dan sampai menyalahkan saya, padahal saya sudah menyampaikan itu dengan sedemikian rupa. Nah, itu saya bisa sampai mengekspresikan amarah saya dengan secara terang-terangan atau kalau dalam bahasa kita sehari-hari yaitu blak-blakan. Kemudian, setelah kejadian itu, barulah saya merasa bahwa saya sangat menyesali apa yang telah terjadi. Misalnya saya menyesal karena tadi saya sudah marah-marah pada teman-teman saya. Padahal itu semua yang bisa kita bicarakan dengan baik-baik tanpa marah-marah. Tapi memang jika dilihat dari lingkungan kita, kebanyakan orang itu sulit jika dalam mengontrol amarah, atau amarah itu sulit untuk dikendalikan. Sama halnya juga dengan sedih, bahagia. Akan tetapi, kalau sedih itu masih bisa untuk dikontrol, atau masih bisa dikendalikan.

C.    Keterkaitan antara Teori dengan Hasil Wawancara
Pada dasarnya, emosi itu memag sudah ada dalam diri masing-masing orang. Baik itu dari emosi amarah, sedih, senang, terkejut, takut, malu dan sebagainya. Jika dilihat dari hasil wawancara yang saya lakukan, saya dapat mengetahui bahwa emosi itu berkaitan dengan persepsi atau cara pandang seseorang terhadap sesuatu, karena setiap orang juga punya cara tersendiri untuk mengekspresikan emosinya tersebut serta cara untuk mengendalikannya pun berbeda, yaitu tergantung dari persepsi orang tersebut.
Dalam hal ini, emosi juga berkaitan dengan memori atau ingatan seseorang, karena ingatan masa lalu juga dapat mempengaruhi keadaan jiwa seseorang. Memendam emosi negatif seperti marah itu juga tidak selamanya baik, karena amarah yang di pendam terus-menerus, sewaktu-waktu akan meluap kapan saja, ada baiknya ketika kita ada masalah kita mencari tempat untuk bisa sharing dan minta solusi kepada teman yang kita percaya contohnya, dan cara lainnya kita juga bisa melakukan hal-hal positif yang bermanfaat untuk kita dan orang lain, ketika seseorang paham akan keadaan dirinya sendiri, ia akan lebih mudah mengendalikan emosinya.
Keterkaitan hasil wawancara ini dengan teori yang diambil, dapat disimpulkan bahwa dimana seseorang itu dapat mengekspresikan emosinya itu sesuai dengan perasaannya. Bahkan dari sebab akibat itu sendiri dapat dirasakannya. Seseorang akan sadar saat semua kejadian itu telah terjadi, dan akan menyesali dengan apa yang telah terjadi, jika itu dalam emosi amarah. Jika itu terjadi dalam emosi lainnya, maka semua itu akan tergantung pada diri seseorang itu, entah itu dari cara ia mengontrol atau mengendalikan dirinya.

D.    Dokumentasi
   
Foto


Tidak ada komentar:

Posting Komentar